Kemhan Hentikan Latsarmil SPPI Pasca Meninggalnya Lima Peserta
Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemhan) secara resmi menghentikan pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Keputusan ini diambil menyusul meninggalnya lima peserta selama menjalani latihan tersebut.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan evaluasi mendalam terhadap program tersebut setelah aspek keselamatan peserta menjadi sorotan publik. Program Latsarmil sebelumnya menjadi bagian wajib pembekalan bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).
“Setelah dilakukan evaluasi secara menyeluruh, program pembekalan bagi peserta SPPI diubah menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial,” demikian keterangan resmi Kemhan yang dilansir Antara.
Dalam format baru ini, fokus pembekalan dialihkan pada pembentukan karakter, disiplin, kepemimpinan, kerja sama tim, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi. Beberapa materi latihan kemiliteran yang dianggap kurang relevan dikurangi secara signifikan.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah penghapusan latihan menembak dari daftar materi. Selain itu, pemeriksaan kesehatan peserta akan diperketat, sementara porsi latihan fisik akan disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing individu. Pendekatan pembelajaran juga dibuat lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta.
Meski format berubah, Kemhan menegaskan bahwa tujuan utama program tetap sama, yaitu membekali para sarjana dengan nilai-nilai disiplin, semangat kepemimpinan, dan kesiapan untuk mengelola koperasi di tingkat desa dan nelayan.
Keputusan ini mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan, terutama sebagai langkah prioritas keselamatan peserta muda yang menjadi agen pembangunan di daerah. Program SPPI sendiri merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi kerakyatan melalui keberadaan Koperasi Merah Putih di seluruh Indonesia.
Diharapkan dengan pendekatan yang lebih humanis dan menyesuaikan kondisi peserta, program ini dapat melahirkan manajer koperasi yang kompeten tanpa mengorbankan nyawa.



