Gagak Hitam News
GAGAK HITAM
—   N E W S   —
Memuat

Pelaku Tabrak Lari di Pawai LGBTQ+ Berlin Tewas Ditembak Polisi, Motif Ekstremis Islamis Diselidiki

Devi Sry Atmaja
02 Agustus 2026
14.42 WIB
2 dibaca
Pelaku Tabrak Lari di Pawai LGBTQ+ Berlin Tewas Ditembak Polisi, Motif Ekstremis Islamis Diselidiki

Berlin — Abdul Ballout, pengemudi yang diduga menabrakkan kendaraan ke kerumunan peserta pawai LGBTQ+ di Berlin, tewas ditembak polisi saat proses penangkapan. Insiden berdarah tersebut terjadi pada malam 25 Juli 2026 di kawasan Tiergarten, dekat Brandenburg Gate, saat berlangsung perayaan Christopher Street Day (CSD), salah satu festival Pride terbesar di Eropa.

Ballout, warga negara Jerman berusia 21 tahun keturunan Lebanon, diduga mengendarai van putih menyusuri jalur pejalan kaki di taman Tiergarten sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Kendaraan tersebut menabrak sejumlah orang sebelum menghantam pohon. Setelah keluar dari kendaraan, pelaku dilaporkan menyerang beberapa orang lainnya dengan senjata tajam, diduga parang atau machete.

Serangan itu menewaskan satu orang—seorang perempuan warga negara Polandia berusia sekitar 65 tahun—dan melukai setidaknya 29 orang lainnya. Beberapa korban mengalami luka serius hingga mengancam nyawa. Pawai dan acara penutupan CSD yang dihadiri ratusan ribu orang langsung dihentikan, sementara polisi melakukan pengamanan besar-besaran dan evakuasi.

Setelah melarikan diri dari lokasi kejadian, Ballout menjadi buronan. Polisi Berlin dan jaksa penuntut umum mengeluarkan surat pencarian publik, memperingatkan bahwa pelaku berpotensi bersenjata dan berbahaya. Ia digambarkan berusia sekitar 21 tahun, tinggi sekitar 1,9 meter, bertubuh ramping, dan berambut hitam.

Pada Minggu (26/7/2026) sore, sekitar pukul 18.00, polisi berhasil melacak Ballout di sebuah kebun atau allotment garden di distrik Spandau, pinggiran Berlin. Saat petugas mencoba menangkapnya, Ballout dilaporkan berlari ke arah polisi sambil membawa senjata tajam. Petugas kemudian menembak setidaknya satu kali. Ballout tewas di lokasi kejadian.

Otoritas Jerman mengklasifikasikan serangan tersebut sebagai aksi teror ekstremis Islamis. Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt menyatakan bahwa semua petunjuk mengarah pada serangan teror Islamis. Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa Ballout sebelumnya diketahui memiliki hubungan dengan lingkungan ekstremis Islamis di Berlin.

Ballout lahir di Berlin pada 2005 dari keluarga Lebanon. Ia pernah menarik perhatian otoritas karena sejumlah pelanggaran pidana, proses radikalisasi, dan afiliasi dengan kelompok Islamis. Pada 2025, ia sempat bepergian ke Lebanon dengan niat bergabung dengan kelompok militan Islamic State (ISIS/ISIL) di Suriah. Ia sempat ditahan di Lebanon dan dijatuhi hukuman singkat terkait afiliasi dengan kelompok tersebut, sebelum kembali ke Jerman.

Penyidik menemukan indikasi bahwa Ballout sempat membuat video yang menyatakan kesetiaan kepada ISIS. Otoritas masih mendalami motif lengkap serangan serta kemungkinan keterkaitan pelaku dengan jaringan ekstremis yang lebih luas.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam serangan itu sebagai tindakan keji dan menyerukan agar peserta CSD serta masyarakat tidak intimidasi. Ratusan orang kemudian berkumpul di Brandenburg Gate untuk memberikan penghormatan kepada korban, meletakkan bunga dan lilin.

Insiden ini memicu diskusi mendalam di Jerman mengenai keamanan acara publik, pengawasan terhadap individu yang sudah teridentifikasi berisiko radikalisasi, serta perlindungan terhadap komunitas LGBTQ+. Otoritas Jerman terus melakukan penyelidikan forensik terhadap kendaraan, senjata, dan barang bukti digital milik pelaku.

Hingga saat ini, polisi dan jaksa penuntut umum masih mengumpulkan keterangan saksi serta menganalisis seluruh rangkaian peristiwa untuk mengungkap secara lengkap latar belakang dan motif serangan tersebut.


Tag

Memuat tag berita...
Minggu 02 Agustus 2026
00:00
Waktu Indonesia Barat